Gas Emisi dari Pembakaran Boiler Minyak Sawit

Posted on

Industri pengolahan kelapa sawit adalah salah satu industri kunci di Indonesia. Data Analisis Minyak Kelapa Sawit (Sathia, 2017) melaporkan bahwa memproduksi Indonesia udah raih 34.520.000 ton.

Satu ton buah segar, tandan, dan serat kasar kira-kira 90 kg, 144 kg tiap-tiap (Hambali dan Komarudin, 2010) dan ini dibakar untuk membuahkan energi untuk pabrik kelapa sawit.

Mekanisme pembakaran melalui ketel mampu raih pembangkitan listrik yang optimal. Setiap pabrik umumnya mempunyai dua boiler Flow Meter Tokico yang beroperasi dan siaga untuk tingkatkan kapasitas peningkatan jumlah memproduksi pada masa depan.

Serat dan cangkang limbah kelapa sawit sebagai biomassa energi ini biasa digunakan sebagai bahan bakar boiler. Namun, sistem pembakaran biomassa membiarkan gas yang tidak terkontrol dan emisi partikulat, yang berkontribusi secara substansial pada masalah lingkungan.

Gas selama pembakaran yang beresiko adalah SO2 dan NO2. Sulfur Dioksida terhitung dari SOx yang berasal dari keberadaan spesies anorganik. Tambahan, Nitrogen Dioksida sebagai bentuk kategori utama dari NOx, NO, dan N2O, udah didorong oleh pembakaran pengaturan dan bahan bakar nitrogen (Yin et al., 2008). Belerang Dioksida mampu membuat korosi suhu rendah dan Nitrogen dioksida mempunyai dampak yang kurang baik pada kesehatan manusia dan lingkungan.

Penelitian ini dijalankan dengan memperbandingkan dua pabrik kelapa sawit di Kalimantan Barat. Analisis untuk emisi gas dikontrol dan disesuaikan dengan peraturan Indonesia seperti kandungan Sulphur Dioxide (SO2), Nitrogen Dioxide (NO2), Opacity, dan Partikel Emisi ditentukan untuk pengukuran data.

Kehadiran Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen Dioksida (NO2), Opacity dan Emisi Partikulat adalah hal penting untuk dipelajari.

Hasil dari studi ini menyatakan bahwa kedua pabrik kelapa sawit mematuhi regulasi peraturan Indonesia. Hasil SO2 kurang dari 2,61 dan 38,23 mg / Nm3 untuk Pabrik Pertama dan Pabrik kedua.

Kandungan NO2 kurang dari 1,88 dan 364,0 mg / Nm3 masing-masing. Opacity dan partikulat emisi melukiskan hasil yang baik dan tetap mematuhi peraturan tersebut. Beberapa makalah mengkompilasi dengan knowledge pengukuran untuk mengimbuhkan distribusi knowledge yang lebih sadar dari Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen Dioksida (NO2), Opacity, dan Emisi Partikulat.

Peraturan Lingkungan Indonesia Menteri No. 7, 2007 (PERMEN LH nomor 7 / MENLH / 2007) memberitahukan batas kualitas emisi boiler yang mampu digunakan pada serat atau cangkang biomassa.

Makalah ini menyajikan sebuah investigasi gas emisi dan partikulat emisi dari boiler pabrik kelapa sawit yang mempunyai kapasitas 30.000 kg/jam dan uap 35.000 kg/jam. Selain itu, penelitian ini terhitung memperbandingkan dengan lebih dari satu makalah dengan batas peraturan Indonesia. Dua pabrik kelapa sawit berlokasi di Kalimantan Barat dipilih untuk penelitian.

Kalimantan Barat adalah provinsi dengan peringkat yang ke-5 tertinggi menurut knowledge statistik Perkebunan Pohon kelapa sawit Indonesia pada th. 2015-2017. Pada th. 2017, total daerah untuk perkebunan kelapa sawit adalah 1.497.841 ha dengan 2.658.702 ton kelapa sawit memproduksi minyak.

Di pabrik yang berbeda, kapasitas boiler 30.000 kg / jam dan 35.000 kg / jam udah dipilih untuk memeriksa emisi gas. Titik pengambilan sampel mengikuti peraturan Indonesia dengan wilayah dua kali diameter cerobong mengacu ke Indonesia Peraturan (Bapedal, 205/1996).

Berdasar knowledge pembanding dari dua pabrik yang berbeda, maka mampu diajukan lebih dari satu perbaikan. Beberapa perbaikan mampu dijalankan untuk tingkatkan kualitas emisi gas buang dan partikulat, antara lain, sebagai berikut: melakukan perbaikan perlindungan dan atau penambahan udara gara-gara NO2, NOx, dan NO emisi benar-benar tergoda oleh pementasan udara;

mengontrol biomassa udara berlebih pada pemantik world bahan bakar yang mempunyai kelembaban lebih tinggi; Menyesuaikan waktu tinggal bahan bakar pada parut, gara-gara hal ini akan menjadi kompleks gara-gara antarmuka dengan distribusi, ukuran antara tungku dan bahan bakar menyebar;

Mengoptimalkan suhu lapisan padat di luar udara primer yang dipanaskan bisa saja diperlukan; Kontrol suhu pembakaran; dan tambahan dengan pemeriksaan kelembaban bahan bakar. Usaha ini dikehendaki akan semakin tingkatkan kualitas gas emisi pada pembakaran biomassa tandan kelapa sawit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *