Perubahan Iklim Ubah Anatomi Manusia Purba

Posted on

penemuan fosil baru di Afrika Selatan membuktikan kalau Paranthropus robustus berevolusi dengan lekas selagi rentang waktu peralihan hawa keadaan lokal yang bergolak kurang lebih 2 juta tahun kemudian. Hasilnya, peralihan anatomi yang sebelumnya dihubungkan dengan perbedaan jenis genus.

Fosil tengkorak membuktikan situasi lingkungan mendorong peralihan lekas laki-kaki dari genus orang Paranthropus robustus diduga jauh lebih besar dari betina-sama serupa perbedaan skala yang kelihatan pada primata periode modern serupa kera, orangutan, dan babun.

suatu team penyelidik global termasuk penyelidik Arizona State University Gary Schwartz mengatakan penemuan mereka dari sistem gaung Drimolen yang banyak fosil di barat laut Johannesburg.

riset mereka tertuang dalam jurnal Nature pada jenis Ecology & Evolution pada 9 November 2020 dengan kepala karangan Drimolen cranium DNH 155 documents microevolution in an early hominin species.

“Mengamankan data yang mengabadikan peralihan anatomi kecil dari waktu ke waktu susah dalam memo fosil, terpenting mengenang alangkah amat jarang fosil orang arkais, ” tutur Schwartz, Research Associate di Institute of Human Origins dan guru besar di School of Human Evolution and Social Change, dinukil dari halaman Arizona State University, Senin (9 atau 11 atau 2020).

Fosil yang terawetkan dengan amat bagus yang dijabarkan di atas kertas ditemui oleh seseorang anak didik, Samantha Good, yang ikut serta dalam sekolah alun-alun Drimolen Cave yang dipimpin bersama-sama oleh bermacam institusi di AS, Afrika Selatan, dan Australia.

Para penyelidik sudah memahami kalau kedatangan P. robustus kurang lebih 2 juta tahun yang kemudian di Afrika Selatan dengan cara kasar berbarengan dengan lenyapnya Australopithecus, aki kumpi orang arkais yang kira-kira lebih kuno, dan kedatangan di area perwakilan awal Homo, jenis sampai punya orang modern. peralihan ini aktif amat lekas, mungkin cuma dalam beberapa persepuluhan desimal ribu tahun.

David Strait dari Universitas Washington di St. Louis menerangkan anggapan yang sukses ialah kalau peralihan hawa keadaan mewujudkan tekanan pada komunitas Australopithecus yang akibatnya menyebabkan kematian mereka, tetapi situasi lingkungan lebih profitabel buat Homo dan Paranthropus, yang mungkin sudah menabur ke area itu dari lokasi lain.

“Sekarang kita memandang kalau situasi lingkungan mungkin membuat Paranthropus juga stres, dan kalau mereka harus menyesuaikan buat bertahan hidup, ” tuturnya.

ilustrasi baru yang ditemui di Drimolen, yang diidentifikasi dengan nomor brosur museum DNH 155, nyata ialah pria tetapi berlainan dalam beberapa keadaan pokok dari P. robustus lain yang sebelumnya ditemui di dekat lokasi Swartkrans-tempat beberapa besar fosil genus ini ditemui.

kemajuan dalam sesuatu genus mungkin susah diamati dalam memo fosil. peralihan mungkin tak bahana, dan memo fosil kondang tak komplit. kebanyakan, rekaman fosil menguak pola rasio yang lebih besar, serupa saat genus ataupun golongan genus muncul dalam rekaman fosil ataupun binasa.

Jadi, penemuan Drimolen ini memberi jendela yang sedikit kelihatan ke dalam kemajuan orang arkais. ilustrasi baru ini lebih besar dari yang ditemui sebelumnya, badan genus yang dipelajari dengan bagus di Drimolen-individu yang dikenal sebagai DNH 7 dan diduga betina-tetapi ukurannya lebih kecil dari yang diperkirakan laki-kaki dari Swartkrans.

Jesse Martin, seseorang mahasiswa doktoral di La Trobe University di Australia menerangkan kini kelihatan seakan perbedaan antara kedua lokasi tak bisa sedemikian itu aja dijabarkan sebagai perbedaan antara laki-laki dan perempuan, tetapi sebagai perbedaan tingkat komunitas di antara situs-situs itu.

“Pekerjaan kita baru-baru ini membuktikan kalau Drimolen mendahulukan Swartkrans kurang lebih 200. 000 tahun, jadi kita benar-benar percaya kalau P. robustus berevolusi dari waktu ke waktu, dengan Drimolen menggantikan komunitas awal dan Swartkrans menggantikan komunitas setelah itu yang lebih diturunkan dengan cara anatomis, ” tuturnya.

dia menambahkan seorang bisa menggunakan rekaman fosil buat membantu merekonstruksi ikatan kemajuan dampingi genus dan pola itu bisa memberi semua jenis anggapan ke dalam cara yang membangun kemajuan golongan tertentu.

“Namun dalam masalah P. robustus, kita bisa memandang contoh terpisah dari genus yang didapat dari area geografis yang serupa, tetapi waktu yang sedikit berlainan, membuktikan perbedaan anatomis yang lembut, dan itu konstan dengan peralihan dalam sesuatu genus, ” ucapnya.

Andy Herries, seseorang guru besar Universitas La Trobe dan salah satu ketua cetak biru Drimolen mengungkapkan serupa semua insan lain di dunia, aki kumpi anda menyesuaikan dan berevolusi seperti dengan panorama dan lingkungan di kurang lebih mereka.

“Untuk pertama kalinya di Afrika Selatan, kita memiliki pernyataan penanggalan dan data morfologis yang membolehkan kita buat memandang peralihan serupa itu dalam garis dinasti rumpun hominin antik dengan jendela waktu yang kecil, jelasnya.

data peralihan hawa keadaan yang lekas akan tetapi penting selagi rentang waktu ini di Afrika Selatan berawal dari bermacam pangkal. dengan cara darurat, fosil membuktikan kalau binatang menyusui tertentu yang tercantel dengan hutan ataupun lingkungan hutan belukar binasa ataupun jadi minim lazim-sementara genus lain yang tercantel dengan lingkungan yang lebih kering dan lebih terbuka muncul dengan cara lokal buat pertama kalinya.

Schwartz mengartikan serupa perihalnya ketika ini, pergeseran hawa keadaan mengganti lingkungan lokal, dan kedatangan lekas lingkungan yang lebih terbuka, kering dan lebih adem di Afrika Selatan ketika ini melahirkan peralihan pada ilmu lingkungan lokal dan dengan begitu, pada makanan yang ada di panorama.

“Kami telah ingat kalau P. robustus sudah melebarkan sebanyak pengkhususan anatomi tengkorak yang memungkinkannya buat mengkonsumsi dan bertahan hidup dengan jenis makanan yang keras, keras, dan susah diproses, ” tuturnya.

cuma aja, lanjutnya, jikalau ketimbang dengan ilustrasi yang dengan cara geologis lebih belia dari tempat terdekat Swartkrans, tengkorak Drimolen dengan amat nyata membuktikan kalau beliau minim menyesuaikan dengan bagus buat makan item menu yang menantang ini.

“Apa yang kita punya ialah cerita yang luar lazim berhubungan gimana hawa keadaan kering menyebabkan pemilahan alam mengganti anatomi genus yang satu ini cuma dalam kurun waktu 200. 000 tahun-sekejap mata dengan cara geologis-dari rupa yang minim berdaya guna di Drimolen sampai kemajuan yang lebih peranti makan yang kuat ada di Swartkrans P. robustus, jelasnya.

Patut dicatat juga kalau P. robustus muncul pada waktu yang kurang lebih serupa dengan bibit buwit langsung anda Homo erectus, serupa yang didokumentasikan oleh anak H. erectus cranium yang ditemui team di lokasi Drimolen yang serupa pada 2015.

Schwartz menambahkan kedua genera ini hidup berdampingan dengan jenis ketiga dari aki kumpi orang arkais, Australopithecus, juga ada dari lokasi di ngarai kecil yang serupa.

“Bagaimana hominin ini memilah panorama, terpenting selagi rentang waktu lingkungan yang beralih dengan cara ekstrem ini, lagi belum nyata dan itu ialah fokus penting riset kita di masa depan, ” ucapnya.

agen ketua cetak biru Stephanie Baker dari Universitas Johannesburg menambahkan Drimolen dengan lekas jadi lokasi terkenal buat penemuan hominin awal, yang adalah data kontribusi team ketika ini buat eksploitasi holistik dan analisa pasca-lapangan.

“Kranium DNH 155 ialah salah satu ilustrasi P. robustus yang diawetkan paling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *